










My heart has been heavy for days. On the inside, a familiar weight has been settling in my chest, a constant reminder of conversations that veered into a territory I know too well. They often start so innocently, so justifiably.
“I have to vent about how frustrating that interaction was,” I reason.
“They need to understand the situation with so-and-so,” I justify.
In explaining, venting, and justifying, I cross a line. Out of frustration and carelessness, I’ve spoken unnecessarily about others. How do I vent my frustration without poisoning my own heart and the hearts of others against a creation of Allah?
Ya Allah Ya ‘Afuw, forgive me for the times my tongue ran ahead of my iman. Forgive me for the nonsense I have uttered in front of everyone. Guide my mind to be more alert before I speak and to repair what I have done.





Pada satu malam, ustaz mengajarkan kami akan satu hadis ringkas. Pengisian hadis tersebut mencerminkan kelemahanku sama ada yang sengaja atau tidak disengajakan.
Periwayat hadis itu ialah Syaddad bin Aus. Siapakah dia? Apakah sifat mahmudah yang ada pada dirinya? Mengapakah dia mempesona?
Syaddad bin Aus ialah seorang yang ilmunya begitu luas. Dia tidak pernah marah. Apabila dia bercakap, dia fasih.
Ibadahnya kuat dan dirinya seorang zuhud. Kualitinya ialah seseorang yang dipercayai. Sikapnya santun dan dipuji oleh masyarakat Ansar Madinah.
Semenjak menjadi seorang Islam, tidaklah dia gemar untuk bergurau. Gurauan, padanya, sesuatu yang melalaikan.
Pada malam hari, dia tidak selesa berada di perbaringan lantaran memikirkan kepanasan api neraka. Dek hal ini, masyarakat mengumpakannya sebagai kacang yang dibakar.
Sesungguhnya, pada malam itu, aku dan rakan-rakan sekelas yang lain diajak untuk menginsafi peribadi mulia seorang Syaddad bin Aus. Semoga kita ‘sebaik’ dan ‘seindah’ Syaddad.
In kindness, she spoke, with a heart so pure,
But met only harshness, a cruelty obscure,
With every glance, a judgment was cast,
And her innocence, they deemed too vast.

May Allah accept our prayers, forgive our shortcomings, and shower my family and me with His endless mercy.












Ended January by treating family to a nice meal and borrowing two books from the library. The books are Hearts that Remember by Sa’diyya Nesar and Fasting Like a Girl by Dr. Mindy Pelz. Started February with a small adventure, heading to Publika to find some traditional kueh. The kueh is from Baitun Classic.